Category Archives: Bidang Sosial

  • -

Donor Darah Serentak Hakka Indonesia 2019 hadir di Sleman City Hall

Tags : 

Paguyuban Hakka Jogjakarta bekerjasama dengan PMI Kota Yogyakarta dan Sleman City Hall menyelenggarakan Donor Darah Serentak Hakka Indonesia 2019 Sabtu, 7 September 2019 bertempat di atrium Sleman City Hall. Donor Darah serentak Hakka Indonesia ke 6 ini menargetkan 1.500 kantong darah. Tahun sebelumnya, Jogja selalu dapat mengumpulkan di atas 1.000 kantong darah, ujar Heri Subandar , Ketua seksi sosial Paguyuban Hakka Jogjakarta.

Menurut Noer Edy Hidayatullah, staf P2D2S ( Pengerahan dan Pelestarian Donor Darah Sukarela) PMI Kota Yogyakarta, kali ini PMI Kota Yogyakarta menurunkan
100 tenaga yang terdiri dari 15 dokter, tenaga medis dan relawan yang berasal dari PMI Kota Yogyakarta dibantu PMI Sleman dan PMI Kulon Progo.

Acara yang dimulai pukul 08.00 sampai 18.00 WIB menyediakan Doorprize 10 tabungan @250.000, 1 unit mesin cuci, 1 unit kulkas, 1 unit TV dan grand prize 1 unit motor. Panitia juga menyediakan fasilitas bagi pendonor berupa masing-masing 2.000 piagam, snack, minuman dan voucher diskon makan di Kampoeng Melayu Resto.

Sampai pada pukul 13.25 telah ada 538 kantong darah dan pendaftaran sampai nomor urut 752 dan masih bertambah melihat antusiasme para pendonor yang datang dari berbagai daerah.

Ahmad Samiyono, 20 tahun, mahasiswa salah satu universitas di Jogja asal Solo ini mengaku sudah 4 kali donor darah. Ahmad tertarik donor karena ingin memberikan kasih kepada sesama yang membutuhkan darah.

Berbeda dengan Setiawan, pimpinan salah satu perusahaan di Denggung bersama dengan 11 karyawannya ikut berbagi kasih dalam donor darah kali ini. Beliau juga aktif donor darah sejak berumur 20 tahun. Kalau donor darah saya merasa lebih sehat dan segar. Saya memberikan apresiasi kepada Hakka Jogjakarta yang rutin menyelenggarakan acara ini, ungkap setiawan. (Rosa/HakkaJogja)


  • -

Ako Amoi Hakka Jogjakarta Dan Putra Putri Jogjakarta Menyelenggarakan Kegiatan Bagi Takjil

Tags : 

Ako Amoi Hakka Jogjakarta dan Putra Putri Hakka Jogjakarta menyelenggarakan kegiatan bagi takjil yang berupa nasi kotak dan minuman kepada masyarakat yang berpuasa dimana dipersiapkan sebanyak 500 paket  untuk dibagikan di perempatan Tugu Jogjakarta 1 Juni 2019 pukul 16.00 WIB.

Paket Takjil dibagikan Kepada Pengendara yang Sedang Berhenti.

Acara yang dikoordinir oleh Ako Jogjakarta 2018, Stefan bersama rekan Ako Amoi Jogjakarta serta Putra Putri Hakka Jogjakarta ini mendapat sambutan baik dari masyarakat yang sedang menjalankan puasa. Pak Ahmad beserta ibu, warga Jakarta yang sedang libur di Jogja mengapresiasi kegiatan ini. Beliau berharap kegiatan positif ini dapat memberikan dampak positif kepada generasi muda lainnya dan akan menjadi agenda rutin untuk anak muda di Jogjakarta agar saling berbagi dan sebagai wadah memupuk toleransi antar umat beragama di Jogjakarta.

Ako dan Amoi sedang Swafoto

Ketua Paguyuban Hakka Jogjakarta, Y. Rusmin juga memberikan apresiasi kepada generasi muda Hakka Jogjakarta atas terselenggaranya kegiatan bagi takjil ini. Semoga semangat Putra Putri Hakka khususnya Ako Amoi Hakka Jogjakarta semakin meningkat dan semakin kompak dalam menyelenggarakan kegiatan Paguyuban Hakka Jogjakarta.


  • -

RITUAL PENGHORMATAN TERAKHIR

Tags : 

Penghormatan Terakhir kepada kerabat keluarga besar Hakka yang meninggal di Jogjakarta , selalu dijalankan dengan khidmat oleh Paguyuban Hakka Jogjakarta. Ritual ini di angkat kembali tatkala dibawah kepemimpinan ketua PHJ periode ( 2012 – 2018 ) Bapak Soekeno. Penghormatan terutama ditujukan kepada pengurus, mantan pengurus, senior / tokoh Hakka dan yg terdaftar sebagai anggota PHJ yang meninggal tanpa membedakan status sosialnya. Dalam bulan Mei, ada dua kesripahan yang menimpa kerabat keluarga Besar Hakka Jogjakarta, yaitu :

Bp Lie Poo Liong ( Welly Hartono )
Usia : 81 tahun
Hari : Rabu
Tanggal : 15 Mei 2019
Disemayamkan di Rumah Duka PUKJ Ruang A & B.

Penghormatan terakhir kepada, Bp. Lie Poo Liong

 

Foto Bersama

 

Ibu Lin Siau Mei ( Ny. Sundari )
Usia : 78 tahun
Hari : Sabtu
Tanggal : 25 Mei 2019
Disemayamkan di Rumah Almarhumah Jl. Wonosari 12 B, Yogyakarta.

Ibu Lin Siau Mei

Pembacaan doa sebagai penghormatan terakhir untuk Ibu Lin Siau Mei

Menundukkan kepala sebagai penghormatan kepada Ibu Lin Siau Mei

Berita Lelayu / Duka secara tanggap dan aktif di sharekan oleh ke group Persaudaraaan Hakka Jogjakarta oleh seksi sosial yang diketuai oleh Bapak Heri Subandar dan timnya. Disertai dengan himbauan agar para pengurus dan para kerabat dapat hadir dengan seragam duka berupa hem putih. Tampak simpati dan semangat persaudaraan yang merekat. Ritual ini juga melibatkan generasi muda Hakka Jogjakarta secara intens, agar warisan leluhur Tionghoa, khususnya Hakka tetap terlestarikan sepanjang masa. Selama ini, ritual ini dipandu oleh Bapak Ma Cen Bun yang berbahasa Mandarin dan Muda Mudi untuk yang berbahasa Indonesia.


  • -

Buka Bersama dan Bakti Sosial Ramadhan 1440 H

Tags : 

Paguyuban Hakka Jogjakarta mengadakan Acara Buka Bersama dan Bakti Sosial Ramadhan 1440 H dengan warga sekitar dan perangkat desa Ngestiharjo di Rumah Hakka Jogjakarta, Jalan Soragan, Ngestiharjo, Kasihan Bantul. Yogyakarta  Kegiatan  silaturahim persaudaraan tersebut merupakan agenda rutin setiap tahun yang dilakukan oleh Paguyuban Hakka Jogjakarta. Semangat kekompakan, dan kerjasama yang baik antar pengurus dan didukung oleh Muda Mudi Hakka Jogja  berjalan dengan baik dan lancar. 150 paket sembako disiapkan dan dibagi untuk warga  di desa Ngestiharjo.

Penyerahan Sembako kepada warga yang hadir

 

Bapak Y.Rusmin berbincang dengan warga

Buka bersama dan baksos Ramadhan  tersebut dihadiri oleh perangkat desa Ngestiharjo. Bapak Fathoni Aribowo selaku Lurah Ngestiharjo, Bapak Carik dan Dukuh  setempat. Dari pengurus PHJ hadir:  Bapak Yustinus Rusmin sebagai Ketua  Umum Paguyuban Hakka Jogjakarta, Bapak Hardyanto Eko Wibowo selaku ketua harian, wakil ketua Elina YH, dan pengurus  lainnya;  Ketua Bidang Sosial : Heri Subandar, Ma Jun Mo, Chen Liang Sin, Eko Djailanto, Amin Kartawidjaya, Dewi Mayasari, Lie Soe Wen, serta muda mudi Paguyuban Hakka Jogjakarta. Muda Mudi Paguyuban Hakka Jogjakarta turut serta dilibatkan dalam kegiatan tersebut yang nantinya sebagai generasi penerus agar dapat terus memelihara tali  persaudaraan.

Sambutan oleh Bapak Ketua Umum Y.Rusmin

Muda Mudi Paguyuban Hakka Jogjakarta turut serta dilibatkan dalam kegiatan tersebut yang nantinya sebagai generasi penerus agar dapat terus memelihara tali  persaudaraan.

Buka Bersama dan Bakti sosial Ramadhan  diadakan pada hari Sabtu, 25 Mei 2019. Acara tersebut diawali dengan sambutan dari Bapak Yustinus Rusmin, kemudian sambutan dari perangkat desa Ngestiharjo yakni Bapak Fathoni Aribowo dan juga diisi tausiyah oleh Bapak Ustad Untung Kirmanto yang banyak manfaat dalam jalinan silaturahmi.

tausiyah yang diisi oleh Bapak Ustad Untung Kirmanto

Pada kesempatan yang sama, Paguyuban Hakka Jogjakarta juga  memperkenalkan unit usaha yang langsung berhubungan dengan masyarakat luas yaitu Koperasi Simpan Pinjam yang diberi nama Kospin Hakka Jogja Makmur Sejahtera  disingkat HAYO MESRA kepada perangkat desa beserta segenap warga setempat. Ketua Pengurus Yaitu Ibu Lies Yenny dengan dinahkodai oleh manager : Bapak  Ardhias Bintoro, SE., Heri Kurniawan Marpaung, SE. Sebagai Marketing Officer : Suci L  sebagai staf Admin,  serta  dibawah supervisi H.RN Sutoto, SE., MM,. Kospin HAYO MESRA telah beroperasi kurang lebih tiga bulan dan telah mendapat respon positif masyarakat, serta telah berinteraksi dengan UMKM. Perlu diketahui juga bahwa Kospin HAYO MESRA adalah satu-satunya Unit Usaha Kemasyarakatan pertama berupa Koperasi untuk Perkumpulan Hakka di Indonesia.

Logo Koperasi Hakka Jogja Makmur Sejahtera – HAYO MESRA


  • -

Paguyuban Hakka Jogjakarta Menggelar Bakti Sosial

Tags : 

Paguyuban Hakka Jogjakarta (PHJ) menggelar bakti sosial, dengan menyerahkan bantuan kepada 30 warga yang terkena bencana banjir dan longsor di Desa Wukirsari Imogiri, Bantul.

“Sebagai wujud kepedulian sosial, bantuan total 30 Paket , Isi paketnya berupa sebuah Kasur Busa lebar 120 cm, sepasang bantal, sebuah Selimut, 2 pasang sandal dan 2 buah handuk,” jelas Ketua Seksi Sosial PHJ Heri Subandar. Penyerahan bantuan disaksikan langsung oleh Susilo Hapsoro, Lurah Wukirsari Imogiri Bantul beserta staff. Beliau memberikan penjelasan terkait bencana banjir dan longsor beberapa waktu yang lalu dengan korban meninggal 4 orang di Desa Wukirsari Imogiri. Bantuan ini diutamakan bagi warga lansia dan tinggal sendiri. Bakti sosial kali ini juga dihadiri Ketua Harian PHJ Hardyanto Eko Wibowo (Akong) dan pengurus PHJ lainnya Chen Liang Sin, Ma Jun Mo, Lie Soe Wen, Eko Jailanto, Gunawan Lee, Fu Fu, Intani Wibowo, Tjia Yanti, dan Rosa. Heri berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan warga yang membutuhkan. Semoga tali persaudaraan Hakka Jogjakarta dengan warga  semakin erat,” ucap Heri.

Sementara Ketua Umum PHJ, Y Rusmin menyatakan dalam penyaluran bantuan, Hakka melakukan survey terlebih dahulu. “Banyak daerah yang telah menerima bantuan, kita mencari daerah yang masih minim bantuannya,” jelas Rusmin.


  • 0

Teddy Jusuf, Perjuangan Hakkanyin di Militer, PSMTI, Hingga Museum Hakka Indonesia: Semuanya Demi Menyatukan Indonesia

Tags : 

Him Tek Ji berusia 10 tahun ketika ia melihat tentara pertamanya yang sesungguhnya di sebuah kamp Tentara Nasional Indonesia (TNI) ditempatkan di dekat sekolahnya di Jakarta Utara di mana ia dibesarkan. Setiap hari dia pergi untuk melihat para tentara berlatih dan dia tahu suatu hari dia akan menjadi seorang prajurit.Sesuai dengan impian masa kecilnya, Him Tek Ji mendaftar di akademi militer ketika dia selesai sekolah. Dia lulus pada tahun 1965 sebagai Letnan Teddy Jusuf.

Perubahan namanya disarankan oleh gubernur akademi yang prihatin tentang reaksi terhadap orang Tionghoa yang bergabung dengan tentara.

“Undang-Undang (Instruksi Presiden) No. 14/1967 melarang praktik publik bahasa China, adat istiadat dan keyakinan agama, menutup organisasi dan sekolah dan membatasi interaksi China-Indonesia ke sektor komersial. Itu adalah bagian dari politik internasional dan Perang Dingin. Saya berpikir bahwa itu hanya untuk waktu yang singkat seperti lima hingga 10 tahun, “katanya kepada The Jakarta Post.

Keputusan untuk mengubah istilah resmi untuk orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia dari Cina menjadi Tionghoa pada waktu itu juga memiliki efek yang jauh jangkauannya, kata Teddy, karena itu melabeli orang Chinese-Tionghoa sebagai orang luar tanpa saham di negara bahkan jika keluarga mereka telah tinggal di sini selama ratusan tahun.

“Itu berarti bahwa Anda tidak dilihat sebagai bagian dari bangsa Indonesia tetapi bagian dari Republik Rakyat China. Kebingungan antara bangsa dan orang-orang ini menciptakan konflik dalam pikiran orang,” kata Teddy yang lahir di Bogor kepada seorang keturunan Hakka dengan ayah dan ibu yang lahir di Indonesia.

Konflik ini memuncak ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota Indonesia lainnya pada Mei 1998 ketika ratusan orang kehilangan nyawa mereka dan bahkan lebih banyak lagi yang terluka dan diintimidasi. Bisnis keturunan Chinese-Indonesia menjadi sasaran selama kerusuhan meluas dan penjarahan yang diikuti demonstrasi mahasiswa yang menyerukan pengunduran diri presiden Soeharto.

Di masa krisis, masyarakat cenderung mencari ke dalam. Perhimpunan Sosial Marga Tionghoa Indonesia didirikan setelah kejadian yang terjadi pada tahun 1998 tersebut dan Teddy Jusuf muncul sebagai pemimpin alamnya.

Meskipun mengalami banyak diskriminasi di hari-hari awal di ketentaraan, Teddy naik pangkat, menjadi satu-satunya keturunan Tionghoa di Indonesia yang diangkat menjadi brigadir jenderal pada tahun 1983 dan bahkan menjabat sebagai anggota staf senior dalam intelijen militer setelahnya. Teddy bisa mendapatkan kesuksesannya dengan kerja keras, disiplin dan kesabaran, kualitas selama ia di militer, dan yang akan ia bawa untuk memimpin dan membangun asosiasi Tionghoa di Indonesia.

“Orang-orang menginginkan hubungan China-Indonesia dengan ketua yang bisa melindungi mereka. Saya punya catatan patriotik dan pemerintah mempercayai saya.”

Tugas pertama dari asosiasi ini adalah untuk menciptakan jaringan dukungan bagi warga Tionghoa untuk membantu mengatasi akibat kerusuhan. Cabang-cabang didirikan di 25 provinsi dan 117 kota di seluruh negeri.

Membalikkan undang-undang diskriminatif yang mengatur agama, kepercayaan, dan adat istiadat China juga merupakan prioritas utama. Teddy percaya kemajuan telah dicapai dalam reformasi hukum sejak masa kepresidenan Abdurrahman “Gus Dur” Wahid. Undang-undang yang membatasi budaya China sejak masa pemerintahan terdahulu akhirnya dicabut pada tahun 2000. Namun ia menekankan bahwa perlu ada usaha berkelanjutan untuk mendorong partisipasi penuh semua orang dalam ekonomi dan negara.

“Orang Indonesia keturunan Tionghoa tidak boleh begitu terkonsentrasi di satu sektor. Mereka harus dilibatkan di lebih banyak wilayah daripada sekadar bisnis. Ada banyak yang ingin berada di militer, polisi atau menjadi hakim.”

Sementara asosiasi Tionghoa dimana ia memimpin melihat pentingnya bekerja di tingkat akar rumput dengan kegiatan sosial dan proyek untuk mempromosikan kerja sama antaretnis, Teddy menekankan bahwa sinyal untuk perubahan harus datang dari atas.

Tahun Baru Cina tahun di tahun 2003, yang lebih dikenal di sini sebagai Imlek, dirayakan untuk pertama kalinya sebagai hari libur nasional resmi. Namun, Teddy dan banyak komentator lainnya menyesalkan ketiadaan komitmen formal untuk menangani bidang-bidang diskriminasi yang tersisa.

“Sebagai ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia, saya melihat tidak ada penekanan khusus untuk mempromosikan identitas baru Tionghoa-Indonesia atau memberi komunitas peran yang lebih besar sehingga mereka dapat membuktikan bahwa mereka benar-benar warga negara Indonesia.”

Teddy menghadiri sekolah bahasa nasional dan Mandarin sebagai laki-laki dan berbicara Mandarin tetapi merasa generasi muda saat ini bingung dan telah kehilangan banyak budaya mereka. Ini diilustrasikan dengan baik pada acara-acara sosial seperti pernikahan ketika mereka sering tidak yakin jenis pakaian apa yang harus mereka kenakan: tradisional China, tradisional Jawa atau sesuatu yang sama sekali berbeda? Pada akhirnya, katanya, banyak yang mala justru memilih pakaian ala Barat.

Ada banyak hal yang harus dilakukan, Teddy berpendapat, sebelum orang dapat benar-benar merasa nyaman menjadi etnis Tionghoa di Indonesia. Terlalu banyak pertanyaan yang masih belum terjawab seputar peristiwa Mei 1998. Teddy telah menjadi peserta tetap pada pertemuan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KomnasHAM). Sebagai ketua Asosiasi Sosial Tionghoa Indonesia dia telah mendesaknya untuk menegakkan supremasi hukum.


“Kami tidak mencari kompensasi. Orang-orang hanya perlu tahu mengapa peristiwa Mei 1998 terjadi dan kemudian memaafkan dan melupakan. Kami akan terus mengingatkan pemerintah bahwa ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang merusak kohesi sosial negara.”

Meskipun dia mengklaim telah mengisi politiknya ketika dia menjadi anggota legislatif sebagai perwira tentara dari 1991 hingga 1997, Teddy berpendapat bahwa semua kandidat presiden harus menunjukkan komitmen untuk kesetaraan kesempatan bagi semua orang Indonesia.

Teddy optimis tentang masa depan. Dia melihat kemajuan dalam acara seperti kontes Koko dan Cici yang sudah diadakan setiap tahunnya oleh PSMTI. Kontes ini, didirikan untuk mempromosikan hubungan antaretnis, memilih seorang “saudara laki-laki” dan “saudara perempuan” untuk bertindak sebagai duta dari komunitas etnis Tionghoa selama acara-acara sipil di Jakarta.


  • 0

PHIS Kota Batam mengadakan Donor Darah Serentak Se-Indonesia Setetes Darah Tumpuan Harapan

Tags : 

Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera Kota Batam menggelar kegiatan donor darah di depan Hypermart Nagoya Hill, Minggu (16/9/18) dengan tema “Setetes Darah Tumpuan Harapan”.

Kegiatan ini dimulai sejak pukul 10:00 Wib, di mana gelaran ini merupakan salah satu bentuk kepedulian perhimpunan Hakka Kota Batam yang bekerja sama dengan BMTI (Barisan Muda Tiongha Indonesia) dalam membantu Palang Merah Indonesia (PMI) untuk memenuhi ketersedian stock darah bagi PMI.

“Ini merupakan kegiatan sosial kita ke-10 dan yg ke-3 dalam tahun 2018 ini yang dilaksanakan oleh perkumpulan Hakka kota Batam, di mana kegiatan ini telah secara serentak dilaksanakan terlebih dahulu di 60 kota cabang Hakka Indonesia, pada tanggal 17 Agustus silam,” ujar Hok Sin, selaku ketua Hakka kota Batam.

Selanjutnya dia menjelaskan, harusnya acara ini dilakukan serentak secara nasional dilakukan seluruh cabang kota perhimpunan Hakka di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, namun ada beberapa kota, seperti kita di Batam yang melaksanakannya di bulan September karena alasan tertentu.

“Untuk Hakka Batam sendiri, ini adalah kegiatan ke-3 dalam tahun ini. Yang pertama telah terlaksana pada bulan Maret silam, dan kedua untuk periode Agustus baru terlaksana pada bulan September ini,” ucapnya.

“Dalam 1th biasanya kita adakan 3x sekali, yaitu pada bulan Maret, Agustus dan Desember, dan ini memang agenda rutin perkumpulan Hakka di Indonesia,” jelas Vincent S.Kom, selaku ketua panitia.

Menurut Hendra Asman selaku sekretaris Hakka dan juga anggota dewan komisi II DPRD Kepri “Hakka ini adalah perkumpulan atau bisa dikatakan juga organisasi sosial yang mana agendanya tidak hanya bergerak dalam kegiatan donor darah semata, tetapi juga ada bakti sosial lainnya seperti, sumbangan kepada anak yatim-piatu, serta memberi bantuan untuk kebutuhan hidup anak-anak terlantar.

“Untuk hari ini sedari pagi pukul 10:00 WIB sampai pukul 16:00 pendaftar telah melakukan pendonoran darah 174 kantong darah dari 300an peserta yang mendaftar,” ujar Sudjiman (alie) selaku wakil ketua panitia saat diminta keterangan.

Lebih lanjutnya, Jonly selaku ketua harian Hakka, berharap kedepannya Hakka kota Batam akan terus melakukan kegiatan bakti sosial ini setiap tahunnya demi menunjukkan kepedulian perhimpunan Hakka kota Batam akan masyarakat secara umum.

Sekretariat PHIS Kota Batam


Selamat datang di Website Hakka Yogyakarta! Koneksikan diri anda dengan Hakka Nyin lainnya dan daftarkan diri anda sekarang!